Resmi Diluncurkan, ASEAN-SEAMEO Joint Roadmap on ECCE Jadi Panduan Strategis PAUD 2026–2030

  • News
  • April 10 , 2026

JAKARTA 9 April 2026 – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bekerja sama dengan SEAMEO CECCEP resmi meluncurkan ASEAN-SEAMEO Joint Roadmap on Early Childhood Care and Education (ECCE) in Southeast Asia. Acara yang berlangsung di The Sultan Hotel and Residence, Jakarta, Kamis (9/4/2026), menjadi tonggak sejarah baru dalam penguatan kualitas pendidikan anak usia dini di kawasan.

Peluncuran ini merupakan tindak lanjut konkret dari Deklarasi Pemimpin ASEAN tentang transformasi PAUD yang dipimpin Indonesia pada 2023, serta hasil kesepakatan 11 negara anggota ASEAN dan SEAMEO pada tahun 2025 lalu.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, H.E. Abdul Mu’ti, membuka acara dengan suasana hangat melalui dua buah pantun yang menekankan pentingnya kolaborasi regional. 


Dalam sambutannya, Menteri Abdul Mu’ti menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh negara anggota dan mitra regional seperti Sekretariat ASEAN, SEAMEO, dan UNESCO Jakarta. Ia menegaskan bahwa Roadmap ini adalah instrumen strategis untuk menerjemahkan aspirasi politik menjadi tindakan nyata yang terukur. "Peta jalan ini bukan sekadar dokumen, melainkan panggilan untuk aksi kolektif. Ini adalah komitmen kita untuk bergerak melampaui kebijakan menuju hasil yang nyata, inklusif, dan berkelanjutan bagi seluruh anak," ujar Menteri Abdul Mu’ti.

Joint Roadmap yang diprakarsai oleh Pemerintah Indonesia ini menetapkan tujuh area kunci yang akan menjadi fokus intervensi selama periode 2026–2030 tujuh area prioritas intervensi ini diantaranya (2026-2030);

1. Perluasan Akses: Memastikan kesetaraan layanan PAUD bagi seluruh anak.

2. Peningkatan Mutu: Menguatkan program pembelajaran dan pengalaman belajar anak.

3. Penguatan Tenaga Pendidik: Meningkatkan kompetensi dan kesejahteraan pendidik PAUD.

4. Tata Kelola & Kemitraan: Memperkuat kolaborasi lintas sektor dan pemerintahan.

5. Pemberdayaan Orang Tua: Mendukung peran pengasuh dalam perkembangan anak.

6. Inovasi Digital: Memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab untuk PAUD.

7. Mobilisasi Sumber Daya: Memastikan pendanaan yang berkelanjutan untuk inisiatif PAUD.

Pendekatan Holistik dan Lintas Sektor

Senada dengan Menteri, Dirjen PAUD Dikdasmen, Gogot Suharwoto, menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan menekankan integrasi lintas sektor yang mencakup pendidikan, kesehatan, gizi, hingga perlindungan anak.

“Dokumen ini dirancang sebagai acuan teknis yang dapat dikontekstualisasikan di tingkat nasional masing-masing negara, namun tetap selaras dengan prioritas regional,” jelas Gogot.

Acara ini dihadiri oleh jajaran petinggi pendidikan dari dalam dan luar negeri, di antaranya:

H.E. San Lwin (Deputi Sekretaris Jenderal ASEAN untuk Komunitas Sosial-Budaya).

Datuk Dr. Habibah Abdul Rahim (Direktur Sekretariat SEAMEO).

Maki Katsuno Hayashikawa (Direktur UNESCO Jakarta).

Serta anggota Governing Board SEAMEO CECCEP dari Kamboja, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Timor Leste.

Turut hadir Wakil Menteri Atip Latipulhayat, Sekretaris Jenderal Ibu Suharti, serta para Direktur Jenderal dan Kepala Badan di lingkungan Kemendikdasmen.

Direktur Jenderal PAUD Dikdasmen, Gogot Suharwoto, juga menyampaikan bahwa ASEAN-SEAMEO Joint Roadmap on ECCE ini dirancang untuk menjawab tantangan kesenjangan akses dan mutu PAUD di Asia Tenggara. Ia menggarisbawahi empat prinsip utama yang menjadi ruh dari dokumen ini:

1. Play-based & Child-centered: Pendekatan berbasis bermain yang responsif terhadap situasi nyata anak.

2. Responsif Budaya: Sensitif terhadap konteks lokal yang beragam di Asia Tenggara.

3. Berkelanjutan & Resilien: Adaptif terhadap perubahan global, termasuk tantangan perubahan iklim.

4. Rights-based: Menjunjung tinggi hak anak dan prinsip non-diskriminasi.

"Roadmap ini adalah instrumen strategis yang memberikan ruang adaptasi bagi tiap negara sesuai konteks sosial, budaya, dan ekonominya, namun tetap selaras dengan prioritas regional," jelas Gogot.

Sementara itu, Director of SEAMEO Secretariat, Datuk Dr. Habibah Abdul Rahim, menekankan bahwa PAUD bukan sekadar investasi pilihan, melainkan fondasi utama dalam membangun sistem pendidikan yang berkualitas dan berkeadilan.


Ia menyampaikan bahwa akses terhadap layanan PAUD yang berkualitas sangat penting untuk meningkatkan hasil belajar, mengurangi kesenjangan, serta memperkuat kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang. “Jika kita serius meningkatkan hasil pembelajaran, maka kita harus berinvestasi pada usia dini,” ujarnya.

Menurutnya, inti dari Peta Jalan Bersama ini adalah anak-anak. Mereka berhak mendapatkan awal kehidupan yang kuat, kesempatan yang setara, serta dukungan untuk mencapai potensi terbaik mereka. Keberhasilan implementasi Peta Jalan Bersama ini tidak hanya akan meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi juga membentuk masa depan Asia Tenggara. Peta Jalan merupakan hasil kerja kolektif antara Kemendikdasmen, ASEAN dan SEAMEO Secretariat, SEAMEO CECCEP, dan mitra-mitra Pembangunan dalam maupun luar negeri seperti Tanoto Foundation, UNESCO, ARNEC, UNICEF EAPRO, UNICEF Jakarta, Koalisi PAUD HI dan pihak-pihak lainnya. Dengan diluncurkannya Peta Jalan Bersama ini, negara-negara di Asia Tenggara kini memiliki arah strategis yang sama dalam mengembangkan layanan pendidikan anak usia dini hingga tahun 2030, sebagai bagian dari upaya bersama dalam menyiapkan generasi masa depan yang unggul dan berdaya saing global.

Sebagai bagian dari upaya bersama dalam menyiapkan generasi masa depan yang unggul dan berdaya saing global. Visi besar tersebut kemudian dipertajam melalui rangkaian sesi paralel yang menghadirkan para pakar. Sesi pertama berfokus pada 1. PAUD Inklusif dan Berkualitas Diskusi bertajuk "Inclusive and High-Quality ECCE: Ensuring Equitable Access and Holistic Development for Every Child" menekankan pentingnya menjangkau anak-anak di daerah tertinggal. Para panelis membahas strategi untuk memastikan bahwa layanan PAUD tidak hanya tersedia secara kuantitas, tetapi juga mampu memberikan pengembangan holistik yang mencakup aspek kognitif, emosional, dan fisik anak. 

2.Penguatan Ekosistem melalui Kemitraan Sesi "Strengthening the ECCE Ecosystem: Effective Governance and Multi-Stakeholder Partnerships" menyoroti bahwa PAUD tidak bisa berdiri sendiri. Fokus diskusi adalah pada tata kelola yang efektif dan kolaborasi lintas sektor—melibatkan pemerintah, sektor swasta, organisasi masyarakat, hingga akademisi—untuk menciptakan sistem pendukung yang kokoh. 3. Tantangan dan Peluang Masa Depan di sesi akhir membahas visioner bertema "Future-Ready ECCE: Challenges and Possibilities". Di sini, para peserta mengeksplorasi bagaimana teknologi digital, perubahan iklim, dan dinamika sosial akan membentuk wajah PAUD di masa depan. Sesi ini mendorong negara-negara ASEAN untuk tetap adaptif dan inovatif dalam menghadapi tantangan zaman yang terus berubah.

Melalui peluncuran ini, Indonesia kembali menegaskan posisinya sebagai pemimpin dalam transformasi pendidikan di kawasan. Investasi pada anak usia dini dipandang sebagai fondasi fundamental dalam membangun masyarakat Asia Tenggara yang inklusif, tangguh, dan sejahtera di masa depan.


Bagikan Artikel