Memperkuat Riset Pendidikan Anti-Bias: SEAMEO CECCEP Gelar Workshop Persiapan Penelitian

Bandung, 9–11 Maret 2026 – SEAMEO Regional Centre for Early Childhood Care, Education and Parenting (SEAMEO CECCEP) menyelenggarakan Workshop Persiapan Penelitian Anti-Bias Education sebagai bagian dari upaya memperkuat kualitas riset serta pengembangan program pendidikan anak usia dini yang lebih inklusif dan berkeadilan.

Kegiatan ini diikuti oleh tim peneliti internal dan eksternal yang terlibat dalam kajian pendidikan anti-bias. Workshop bertujuan untuk merefleksikan pelaksanaan penelitian sebelumnya sekaligus menyusun strategi penelitian lanjutan yang lebih komprehensif, khususnya dalam menganalisis bias di lingkungan pendidikan anak usia dini.

Direktur SEAMEO CECCEP, Prof. Vina Adriany, M.Ed., Ph.D., menekankan pentingnya perencanaan riset yang matang serta alokasi waktu yang memadai dalam proses pengambilan data di lapangan. Ia juga menegaskan bahwa setiap kegiatan Research and Development (R&D) perlu dilaporkan secara berkala untuk memantau perkembangan penelitian. Selain publikasi ilmiah, luaran penelitian juga diharapkan dapat berupa pengembangan modul pembelajaran dengan menggunakan perspektif Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) serta diseminasi melalui konferensi dan forum ilmiah lainnya.

Dalam sesi refleksi, para peneliti mendiskusikan pengalaman pengambilan data pada kajian anti-bias yang sebelumnya dilakukan di tiga lokus penelitian. Bias dianalisis berdasarkan aspek GEDSI yang muncul dalam praktik pembelajaran, interaksi sosial di sekolah, serta kebijakan dan lingkungan pendidikan. Tim peneliti mencatat beberapa tantangan selama proses pengumpulan data, antara lain keterbatasan perangkat observasi di kelas, keterbatasan sumber daya manusia, serta waktu pengamatan yang relatif singkat. Idealnya, kegiatan observasi dilakukan oleh lebih dari satu peneliti agar proses dokumentasi dan analisis dapat lebih optimal.

Selain itu, dinamika di lapangan juga menjadi perhatian penting. Beberapa sekolah yang menjadi lokasi penelitian dipilih oleh dinas pendidikan sehingga sekolah yang diteliti cenderung merupakan sekolah dengan performa terbaik. Kondisi ini menyebabkan beberapa respons yang muncul dari pihak sekolah menjadi kurang alami, sehingga peneliti perlu memiliki kepekaan lebih dalam mengidentifikasi bias yang sering kali muncul secara halus dan tidak terlihat secara eksplisit.

Para peneliti juga menyoroti pentingnya keterampilan probing dalam proses wawancara, mengingat banyak jawaban yang disampaikan secara normatif oleh responden. Oleh karena itu, kemampuan menggali informasi secara lebih mendalam menjadi salah satu kompetensi penting yang perlu diperkuat dalam penelitian lanjutan.

Dalam diskusi metodologi, para peserta juga membahas kemungkinan penggunaan pendekatan GEDSI untuk menganalisis berbagai bentuk bias yang muncul dalam pendidikan anak usia dini, termasuk bias gender, disabilitas, maupun latar belakang sosial lainnya. Pendekatan ini juga membuka peluang analisis interseksionalitas, yaitu melihat bagaimana berbagai identitas sosial seperti gender, kelas sosial, agama, atau etnis saling beririsan dalam membentuk pengalaman bias di lingkungan pendidikan.

Selain itu, tim peneliti mempertimbangkan penggunaan metode partisipatif seperti photovoice untuk melibatkan anak secara lebih aktif dalam proses penelitian. Metode ini dinilai dapat membantu menggali pengalaman anak terkait praktik bias yang mungkin terjadi dalam aktivitas belajar dan interaksi sosial di sekolah.

Dalam sesi diskusi penulisan artikel ilmiah, Prof. Hani Yulindrasari menekankan pentingnya merumuskan argumen utama dalam penelitian secara jelas sejak awal. Ia menjelaskan bahwa argumen penelitian harus tercermin dalam bagian abstrak dan didasarkan pada temuan empiris yang kuat agar pembaca dapat memahami kontribusi utama dari penelitian tersebut. Menurutnya, hasil penelitian perlu diorganisasi secara sistematis untuk menunjukkan pola temuan, seperti ekspektasi gender, konstruksi maskulinitas, serta sentimen transphobic yang muncul dalam konteks pendidikan anak usia dini.

Ia juga menyoroti bahwa sentimen transphobic yang muncul dalam praktik pendidikan sering kali berakar pada ketidakpahaman terhadap identitas gender. Kondisi ini dapat berdampak pada pembatasan aktivitas anak, seperti pembatasan permainan atau kegiatan tertentu berdasarkan stereotip gender. Pembatasan tersebut pada akhirnya dapat menghambat perkembangan kreativitas dan eksplorasi anak, baik pada anak laki-laki maupun perempuan.

Lebih lanjut, diskusi juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas tim peneliti sebelum melakukan kegiatan lapangan. Proses kalibrasi antarpeneliti, pelatihan teknik observasi dan wawancara, serta pendampingan dalam proses analisis data dinilai penting untuk memastikan kualitas data yang dihasilkan lebih konsisten dan mendalam.

Sebagai tindak lanjut, penelitian anti-bias ini direncanakan akan memasuki tahap berikutnya, yaitu analisis kebutuhan (needs assessment) serta pengembangan program pelatihan bagi pendidik. Melalui pendekatan GEDSI, program ini diharapkan dapat mendorong terciptanya lingkungan pendidikan anak usia dini yang lebih inklusif, setara, dan mendukung kesejahteraan semua anak.

Melalui kegiatan ini, SEAMEO CECCEP menegaskan komitmennya dalam memperkuat riset berbasis bukti untuk mendukung praktik pendidikan anak usia dini yang lebih adil, inklusif, dan bebas dari bias di kawasan Asia Tenggara.


Bagikan Artikel