Literasi, Numerasi, dan Perubahan Iklim Jadi Sorotan dalam Workshop Riset PAUD di Bandung

Bandung, 12 Maret 2026 – Upaya memperkuat kemampuan literasi dan numerasi anak sejak usia dini kembali menjadi perhatian berbagai pihak. Hal ini mengemuka dalam kegiatan Diskusi Awal Kajian Perubahan Iklim dan Workshop Pengembangan Proposal Riset Literasi dan Numerasi untuk Pendidikan Anak Usia Dini Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh SEAMEO Regional Centre for Early Childhood Care, Education and Parenting (SEAMEO CECCEP) di Harris Hotel & Convention Festival Citylink, Bandung.

Kegiatan ini melibatkan akademisi dan peneliti dari Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), perwakilan Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), serta tim riset dari SEAMEO CECCEP. Diskusi ini bertujuan untuk merumuskan arah kajian yang dapat memperkuat pengembangan literasi dan numerasi sejak pendidikan anak usia dini.

Dalam paparannya, tim peneliti UIII menekankan bahwa kemampuan membaca, memahami informasi, serta berpikir logis perlu dibangun sejak jenjang pendidikan anak usia dini. Literasi dan numerasi dipandang sebagai fondasi penting yang akan memengaruhi perkembangan kemampuan berpikir anak di masa depan. Namun demikian, sebelum menilai kemampuan numerasi pada anak, penting juga untuk memperhatikan kualitas kompetensi literasi dan numerasi yang dimiliki oleh guru.

Saat ini, tim peneliti UIII tengah mengembangkan instrumen untuk mengukur kemampuan numerasi guru kelas awal. Upaya ini dinilai penting karena pemahaman guru terhadap konsep literasi dan numerasi akan sangat memengaruhi kualitas pembelajaran yang diterima oleh anak.

Munaya Nikma Rosyada dari Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) menyampaikan bahwa penguatan literasi dan numerasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan berhitung semata. Lebih dari itu, literasi dan numerasi juga berkaitan dengan kemampuan anak dalam memahami informasi serta memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Diskusi juga menyoroti berbagai tantangan pendidikan di Indonesia, khususnya dalam mendorong kemampuan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS). Oleh karena itu, pendekatan pembelajaran yang lebih mendalam atau deep learning dinilai menjadi salah satu strategi penting agar proses belajar tidak hanya berfokus pada hafalan, tetapi juga mendorong anak untuk memahami konsep secara bermakna.

Perwakilan dari Direktorat PAUD, Arika Novianti, turut menyampaikan bahwa pemerintah terus mendorong penguatan literasi dan numerasi melalui berbagai program nasional, salah satunya Gerakan Numerasi Nasional. Program ini bertujuan membangun budaya berpikir kritis, logis, dan analitis di masyarakat dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari sekolah, keluarga, masyarakat hingga media.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Direktorat PAUD juga terus memperkuat literasi keaksaraan dan numerasi pada jenjang pendidikan anak usia dini sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus membangun fondasi kemampuan berpikir anak sejak dini.

Penguatan literasi dan numerasi menjadi semakin penting mengingat hasil studi internasional, seperti Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik di Indonesia masih berada pada tingkat kemampuan berpikir dasar atau Lower Order Thinking Skills (LOTS). Kondisi ini menunjukkan perlunya strategi pembelajaran yang mampu mendorong anak mengembangkan kemampuan berpikir yang lebih mendalam.

Salah satu pendekatan yang diperkenalkan dalam diskusi ini adalah pembelajaran mendalam (deep learning). Pendekatan ini menekankan proses belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menyenangkan. Dalam praktiknya, pembelajaran tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga melibatkan dimensi emosional dan aktivitas fisik anak sehingga proses belajar menjadi lebih utuh.

Pada jenjang PAUD, literasi keaksaraan dan numerasi dikenalkan melalui kegiatan bermain yang bermakna. Anak-anak dapat belajar mengenal bahasa, huruf, angka, pola, serta konsep berhitung sederhana melalui aktivitas sehari-hari yang menyenangkan dan sesuai dengan tahap perkembangan mereka.

Selain membahas literasi dan numerasi, kegiatan ini juga menyoroti isu perubahan iklim dalam konteks pendidikan anak usia dini. Pada sesi hari kedua, Prof. Teguh dari Universitas Surabaya memaparkan hasil kajian terkait pendidikan perubahan iklim dan menekankan pentingnya kolaborasi dengan guru dalam mengintegrasikan isu lingkungan ke dalam pembelajaran sejak usia dini.

Sementara itu, Syifa Andina dari Koalisi PAUD HI dan Plan International menyampaikan bahwa selama ini isu perubahan iklim sering kali lebih menekankan pada dampak negatif dan ancaman lingkungan. Pendekatan tersebut berpotensi menimbulkan kecemasan pada anak maupun orang dewasa. Oleh karena itu, pendekatan pendidikan perubahan iklim perlu dirancang secara lebih konstruktif dan berorientasi pada solusi agar anak dapat memahami isu lingkungan secara positif.

Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah akademisi dan praktisi pendidikan, di antaranya Trimadona B.W., Faradillah Haryani, dan Munaya Nikma Rosyada dari Universitas Islam Internasional Indonesia, serta Arika Novianti dari Direktorat PAUD. Selain itu, kegiatan ini juga diikuti oleh tim internal SEAMEO CECCEP yang terdiri dari Kepala Divisi Riset dan Pengembangan, Kepala Divisi Operasional, staf terkait, serta para intern.

Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir berbagai gagasan dan kolaborasi riset yang dapat memperkuat pengembangan literasi keaksaraan dan numerasi pada pendidikan anak usia dini. Upaya ini menjadi langkah penting dalam membangun generasi yang kreatif, kritis, serta memiliki kemampuan berpikir yang kuat untuk menghadapi tantangan masa depan.


Bagikan Artikel