Konferensi Internasional Tiongkok-ASEAN 2024 Soroti Pendidikan Anak Usia Dini yang Inklusif dan Berkualitas Tinggi

  • News
  • August 26 , 2024

Pada tanggal 22 Agustus 2024, Konferensi Internasional Tiongkok-ASEAN 2024 tentang Pengembangan Inklusif dan Berkualitas Tinggi dalam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sukses diselenggarakan, menghadirkan sejumlah pembicara utama dari berbagai negara anggota ASEAN dan Tiongkok. Salah satu pembicara yang menjadi sorotan dalam acara ini adalah Ith Vuthy, Deputi Direktur Program SEAMEO CECCEP, yang menegaskan pentingnya pendidikan anak usia dini sebagai fondasi utama dalam mempromosikan kesetaraan dan keadilan sosial.

Dalam pidatonya, Vuthy menyatakan bahwa pendidikan berkualitas, termasuk PAUD, adalah hak asasi setiap anak yang harus dipenuhi oleh setiap negara. Ia menekankan bahwa literasi dan numerasi harus dibangun sejak usia dini, karena kemampuan ini mencakup lebih dari sekadar membaca dan menulis—tetapi juga kemampuan untuk mengekspresikan ide, mendengarkan, dan memahami kosakata. Vuthy juga menggarisbawahi perlunya kurikulum yang holistik yang mencakup semua aspek perkembangan anak, termasuk kognitif, emosional, sosial, dan fisik dalam mendukung Pendidikan anak usia dini yang inklusif dan berkualitas.

Selain Vuthy, konferensi ini juga dihadiri oleh tokoh-tokoh penting lainnya, seperti Ms. Liu Lan, Wakil Walikota Pemerintah Rakyat Kota Guiyang; Mr. Zou Lianke, Direktur Jenderal Departemen Pendidikan Provinsi Guizhou; Mr. Xaiyasin, Penasihat Pendidikan dan Kebudayaan dari Kedutaan Besar Lao PDR di Tiongkok; serta Mr. Li Haisheng, Wakil Direktur Departemen Pendidikan Dasar, Kementerian Pendidikan Tiongkok. Kehadiran para tokoh ini menunjukkan komitmen kuat dari berbagai negara untuk meningkatkan kualitas dan akses pendidikan anak usia dini di kawasan.

Ith Vuthy menyoroti pentingnya memastikan akses, partisipasi, dan kualitas pendidikan anak usia dini yang setara untuk semua anak, terutama di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa keterampilan literasi dan numerasi harus dibangun sejak usia dini, karena tidak hanya mencakup kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan untuk mengekspresikan ide, mendengarkan, dan memahami kosakata.

Lebih lanjut, Vuthy menggarisbawahi perlunya dukungan terhadap pendidikan anak usia dini melalui pengembangan kurikulum yang holistik dan pembelajaran yang mencakup semua aspek perkembangan anak, termasuk kognitif, emosional, sosial, dan fisik. Ia juga menekankan bahwa kurikulum harus dirancang untuk mengembangkan kreativitas, berpikir kritis, dan keterampilan pemecahan masalah melalui aktivitas pembelajaran yang berbasis permainan dan berpusat pada anak.

Selain itu, Vuthy menguraikan tantangan dan peluang dalam pendidikan anak usia dini, mencakup aksesibilitas, partisipasi, dan kualitas yang tinggi sebagai komponen penting untuk mencapai pendidikan anak usia dini yang inklusif dan berkualitas. Beberapa komponen kunci dalam meningkatkan pendidikan anak usia dini secara holistik dan integratif adalah penggunaan kurikulum yang sesuai dengan perkembangan anak, keyakinan dan praktik pedagogis guru yang mendukung, kondisi kerja yang kondusif, partisipasi aktif orang tua dan komunitas, organisasi sekolah yang efektif dan kepemimpinan, rasio staf-anak yang seimbang, serta layanan kesehatan dan kebersihan yang memadai.

Konferensi ini berhasil menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antarnegara dalam meningkatkan pendidikan anak usia dini yang inklusif dan berkualitas. Dengan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, baik di tingkat lokal maupun internasional, diharapkan bahwa upaya untuk memajukan pendidikan anak usia dini di kawasan ASEAN dan Tiongkok dapat terus ditingkatkan, demi masa depan yang lebih cerah dan berkelanjutan bagi semua anak.

Share This News

Comment