Bersatu dalam Transformasi Pendidikan Anak Usia Dini: Southeast Asia Policy Dialogue on Early Childhood Care and Education (SEAPD on ECCE)

  • News
  • July 28 , 2023

Pada tanggal, 25 - 26 Juli 2023 Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), didukung oleh ASEAN Secretariat, The Southeast Asian Ministers of Education Organization Centre for Early Childhood Care Education and Parenting (SEAMEO CECCEP), Tanoto Foundation, and ARNEC telah berhasil menyambut kedatangan menteri pendidikan dari 11 negara kawasan Asia Tenggara, duta besar negara-negara Asia Tenggara untuk Indonesia, serta delegasi dan pembicara di Hotel St Regis Jakarta.

Kemendikbudristek sebelumnya telah melaksanakan Regional Consultation Meeting on Declaration on Early Childhood Care and Education sebagai bagian dari forum Southeast Asia Policy Dialogue on Early Childhood Care and Education (SEAPD on ECCE) yang melibatkan para menteri pendidikan dari 11 negara-negara anggota ASEAN. Forum SEAPD on ECCE membahas draf naskah deklarasi Menteri Pendidikan Asia Tenggara yang berkenaan dengan transformasi Pendidikan Anak Usia Dini di kawasan ASEAN. Deklarasi tersebut nantinya akan diadopsi pada Pertemuan Tingkat Kepala Negara ASEAN dalam forum Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke-43 yang akan dilaksanakan pada awal September 2023.

“Melalui forum ini, kita akan menyepakati deklarasi yang akan merefleksikan upaya negara-negara ASEAN dalam mempercepat transformasi PAUD dan memulihkan ketertinggalan masa belajar (learning loss) pasca pandemi Covid-19,” ucap Iwan Syahril, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Menengah.

Selama pertemuan meja bundar tingkat menteri tentang PAUD, kami menyaksikan dukungan serta komitmen mutlak atas deklarasi pemimpin ASEAN tentang layanan Pendidikan Anak Usia Dini di Asia Tenggara. Dukungan ini merupakan langkah penting untuk mendorong pertumbuhan dan perkembangan pemikiran para generasi muda," ujar Iwan Syahril.

Iwan Syahril memandang tentang pentingnya untuk memastikan kualitas layanan PAUD yang berkualitas bagi anak-anak. Ia menekankan pentingnya semua aspek terkait seperti akses, implementasi kebijakan, peningkatan kualitas dan program pengembangan kapasitas, komitmen keuangan, serta kolaborasi regional untuk berkontribusi pada pengembangan PAUD yang semakin baik di masa mendatang.

Iwan Syahril menyatakan bahwa setelah pandemi, ada kebutuhan untuk melakukan pemetaan lanskap PAUD sebagai dasar bagi pembuatan kebijakan yang berdasarkan bukti. Prof. Maki Hayashikawa, Direktur UNESCO Jakarta, mengapresiasi hasil dari konferensi dan dialog kebijakan Pembangunan Pendidikan Anak Usia Dini berkualitas di Asia Tenggara yang berlangsung dan menghasilkan deklarasi bersama Menteri Pendidikan ASEAN untuk memperhatikan akses dan layanan PAUD berkualitas. Ia menyaksikan minat dan komitmen yang tinggi dari negara-negara Asia Tenggara dan mitra utama dalam mempercepat akses anak-anak ke PAUD yang inklusif dan berkualitas tinggi.

Deklarasi para pemimpin ASEAN tentang PAUD di Asia Tenggara adalah dokumen yang kuat dan penting sebagai penanda kepemimpinan Negara-negara Asia Tenggara untuk menerjemahkan Deklarasi Tashkent. Hal tersebut terdiri dari: (1) menginvestasikan setidaknya 10 persen dari total pengeluaran pendidikan untuk PAUD dan memastikan bahwa gaji dan kondisi kerja tenaga kerja pra-sekolah setidaknya setara dengan gaji guru pendidikan dasar, (2) menjamin kewajiban setidaknya satu tahun pendidikan pra-sekolah dasar berkualitas bersifat gratis untuk semua (sebagaimana ditetapkan dalam Target SDG 4.2), dan (3) secara progresif meningkatkan pelayanan PAUD, dengan memberikan dukungan yang adil dan adaptif kepada anak-anak kategori rentan dan terpinggirkan, serta mewujudkan inklusi, dan kesetaraan gender untuk mereka.

Pada kesempatan kali ini SEAMEO CECCEP memiliki peran yang sangat penting dalam kegiatan ini, SEAMEO CECCEP sebagai lembaga regional terus memberikan kontribusinya dalam pengembangan pendidikan anak usia dini dan parenting. SEAMEO CECCEP turut serta menginisiasi untuk melakukan studi lingkup yang komprehensif tentang PAUD dan Pengasuhan Anak di Asia Tenggara yang nantinya setiap negara dapat mengumpulkan laporan negara dari negara-negara anggota SEAMEO. Country report nantinya dapat memberikan gambaran tentang adanya perubahan dan kemajuan yang terus terjadi di bidang PAUD dan parenting. Sehingga kebutuhan akan studi yang ekstensif untuk memahami kondisi PAUD dan Pengasuhan Anak saat ini di kawasan ASEAN. Studi ini nantinya akan memberikan wawasan dan membantu mengidentifikasi bidang-bidang yang perlu ditingkatkan dan intervensi potensial untuk meningkatkan PAUD dan pengasuhan anak di seluruh negara ASEAN. 

Di sisi lain dalam acara plenary session Prof. Vina Adriany, PhD., Direktur SEAMEO CECCEP menyoroti tentang pentingnya pengembangan pelatihan untuk guru. Selama ini guru di Indonesia memiliki banyak tantangan dan kesulitan. Guru di indonesia selalu dipetak-petakan antara formal dan non formal. 

“Saat ini, kita melihat pelatihan guru dengan model tertentu tanpa memahami kebutuhan mereka. Pelatihan guru tidak peka terhadap budaya guru. Bagi guru mengikuti pelatihan adalah kesempatan untuk menyegarkan dan memperbarui pengetahuan mereka. Pelatihan juga memungkinkan mereka untuk bertemu dengan guru lain dan terlibat untuk mencoba mengevaluasi praktik mengajar mereka, Tutur Vina.”

Maka dari itu penting untuk memikirkan kembali model pelatihan guru yang berkeseimbangan yang lebih setara untuk guru. Pelatihan adalah upaya bagi guru untuk berkembang lebih jauh, dan memberikan ruang bagi guru untuk terlibat dalam proses untuk selalu memahami pelatihan yang peka terhadap budaya. 

Kegiatan ini mengundang perwakilan kementerian pendidikan negara-negara Anggota ASEAN, kegiatan ini melibatkan Sekretariat ASEAN dengan turut mengundang tenaga ahli, mitra pembangunan, organisasi internasional dan organisasi non-pemerintahan di bidang PAUD. Para tamu undangan yang terlibat dalam pertemuan paralel dan diskusi kelompok membahas sejumlah tema terkait Pendidikan Anak Usia Dini. 

Dalam mendukung transformasi pendidikan anak usia dini dibutuhkan kerja sama lintas sektor. Hak anak akan perawatan dan pengasuhan, kesehatan dan nutrisi yang memadai, keselamatan dan keamanan, pengasuhan responsif, dan kesempatan untuk belajar berhak untuk diakses oleh semua anak. Pada akhirnya pertemuan ini menekankan tentang pentingnya kolaborasi yang kuat dalam ekosistem PAUD untuk meningkatkan pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik dalam pendidikan anak usia dini. Simak pernyataan Iwan Syahril (Direktur Jendral Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kemendikbudristek RI), Maki Hayashikawa (Direktur UNESCO Jakarta), dan Roger Yap Chao Jr (Assistant Director Education, Youth, and Sport. melalui kanal Youtube Kemendikbud RI https://youtu.be/aNDnoeZwMnc.



Bagikan Artikel