CPRN Summit 2026 Dorong Kolaborasi Riset, Kebijakan, dan Praktik untuk Masa Depan Pendidikan yang Inklusif, Setara, dan Berkelanjutan di Asia Tenggara

  • News
  • June 09 , 2026

Jakarta, 9 Juni 2026 – Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Early Childhood Care Education and Parenting (SEAMEO CECCEP) bekerja sama dengan SEAMEO Secretariat, SEAMEO Centre Indonesia resmi menyelenggarakan SEAMEO Centre Policy Research Network (CPRN) Summit 2026 pada tanggal 9–11 Juni 2026 di Mangkuluhur ARTOTEL Suites, Jakarta, Indonesia. SEAMEO CECCEP dipercaya menjadi host kegiatan CPRN. CPRN ini merupakan kegiatan yang dilakukan setahun sekali dilakukan oleh SEAMEO yang bertujuan untuk CPRN Summit 2026 hadir sebagai platform regional untuk menerjemahkan hasil penelitian menjadi kebijakan dan praktik yang berdampak nyata bagi pembangunan pendidikan, sains, dan budaya yang inklusif, setara, dan berkelanjutan di Asia Tenggara.

Mengusung tema “Bridging Research, Policy, and Practice: Pathways toward an Inclusive, Equitable, and Sustainable Future”, konferensi regional ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat keterhubungan antara hasil penelitian, kebijakan publik, dan praktik lapangan dalam bidang pendidikan, sains, dan budaya di kawasan Asia Tenggara.

Kegiatan ini menghadirkan para pembuat kebijakan, akademisi, peneliti, praktisi pendidikan, organisasi masyarakat sipil, lembaga pembangunan internasional, serta perwakilan dari negara-negara anggota SEAMEO untuk bersama-sama merumuskan solusi atas berbagai tantangan pembangunan yang masih dihadapi kawasan.

Dalam laporan kegiatan, Direktur SEAMEO CECCEP, Prof. Vina Adriany, Ph.D., menegaskan bahwa Dalam laporan panitia, Prof. Vina Adriany menyampaikan bahwa CPRN 2026 diselenggarakan sebagai wadah strategis untuk memperkuat keterhubungan antara riset, kebijakan, dan praktik pendidikan di kawasan Asia Tenggara. Konferensi yang diikuti sekitar 200 akademisi, peneliti, pembuat kebijakan, dan praktisi dari berbagai negara ini bertujuan mendorong pengambilan kebijakan berbasis bukti, memperluas pertukaran pengetahuan, serta memperkuat kolaborasi regional guna mewujudkan sistem pendidikan yang lebih inklusif, setara, dan berkelanjutan. 

“Melalui CPRN Summit 2026, kami ingin memastikan bahwa penelitian tidak berhenti sebagai dokumen akademik, tetapi mampu diterjemahkan menjadi kebijakan yang relevan dan praktik yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Kolaborasi antara peneliti, pembuat kebijakan, dan praktisi merupakan kunci untuk membangun masa depan yang lebih inklusif, setara, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Datuk Dr Habibah Abdul Rahim menegaskan bahwa SEAMEO Centre Policy Research Network (CPRN) telah berkembang menjadi platform regional yang penting dalam menjembatani riset, kebijakan, dan praktik di Asia Tenggara. Sejak didirikan pada tahun 2016, CPRN tidak hanya menjadi ruang berbagi pengetahuan, tetapi juga ekosistem kolaborasi yang mendukung pengambilan kebijakan berbasis bukti untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan di kawasan.

Datuk Dr. Habibah menyampaikan bahwa tema CPRN 2026, “Bridging Research, Policy, and Practice: Pathways toward an Inclusive, Equitable, and Sustainable Future,” sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi Asia Tenggara saat ini, mulai dari ketimpangan pendidikan, disrupsi teknologi, perubahan iklim, hingga dinamika sosial dan budaya. Menurutnya, tantangan tersebut memerlukan riset yang kuat sekaligus kemampuan untuk menerjemahkan hasil penelitian menjadi kebijakan dan praktik yang berdampak nyata bagi masyarakat.

Ia juga menekankan pentingnya memperkuat tiga pilar utama SEAMEO, yaitu pendidikan, sains, dan budaya. Dalam bidang pendidikan, diperlukan upaya untuk menciptakan sistem yang lebih inklusif dan setara, memperkuat kompetensi masa depan, serta meningkatkan kualitas guru dan tata kelola Pendidikan.

Hal itu juga disampaikan oleh Presiden Dewan SEAMEO, Romaizah binti Haji Md Salleh, menegaskan bahwa CPRN merupakan platform regional yang berperan penting dalam menjembatani riset, kebijakan, dan praktik pendidikan di Asia Tenggara. Menurutnya, CPRN harus terus berkembang sebagai gerakan regional yang memberikan dampak nyata bagi masa depan pendidikan di kawasan.

Dalam pidato pembukaan, Abdul Mu'ti menegaskan pentingnya memperkuat keterhubungan antara riset, kebijakan, dan praktik guna menjawab tantangan pendidikan di era transformasi digital. Menurutnya, Asia Tenggara memiliki peluang besar melalui bonus demografi dan generasi muda yang semakin melek teknologi, namun pada saat yang sama menghadapi tantangan baru akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI), kesenjangan akses teknologi, serta risiko meningkatnya ketimpangan pendidikan. Oleh karena itu, kemajuan teknologi harus menjadi jembatan yang memperluas kesempatan belajar bagi semua, bukan justru memperlebar kesenjangan yang ada.

Menteri Abdul Mu'ti juga menekankan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan kolaborasi pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, masyarakat sipil, keluarga, dan media. Ia memperkenalkan pendekatan Partisipasi Semesta yang diterapkan Indonesia sebagai model tata kelola pendidikan yang mendorong keterlibatan seluruh pemangku kepentingan dalam merancang dan mendukung solusi pendidikan secara bersama-sama.

Lebih lanjut, beliau mengajak para peserta CPRN untuk membangun budaya pengambilan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policymaking), di mana peneliti, pembuat kebijakan, dan praktisi bekerja bersama sejak awal proses perumusan solusi. Menurutnya, hasil penelitian harus menjadi dasar pengambilan keputusan, sementara implementasi kebijakan harus terus menghasilkan pembelajaran baru untuk penyempurnaan kebijakan di masa depan.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Abdul Mu'ti juga menyoroti pentingnya mempersiapkan generasi muda dengan kompetensi abad ke-21, memperkuat budaya belajar sepanjang hayat, serta menjaga keseimbangan antara transformasi digital dan pelestarian identitas budaya. Ia menegaskan bahwa pendidikan, sains, dan budaya merupakan tiga pilar yang saling menguatkan dalam membangun masa depan yang inklusif, setara, dan berkelanjutan bagi masyarakat Asia Tenggara.

Konferensi ini juga mendapatkan dukungan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Sekretariat SEAMEO, GPE KIX, INOVASI, Sekolah Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia, The Conversation Indonesia, serta berbagai pusat regional SEAMEO lainnya.

Selama tiga hari pelaksanaan, CPRN Summit 2026 menghadirkan serangkaian kegiatan yang mencakup keynote session, plenary session, parallel session, side event, poster presentation, serta forum dialog kebijakan yang mempertemukan para peneliti, pembuat kebijakan, akademisi, praktisi, dan mitra pembangunan dari berbagai negara.

Hari pertama diawali dengan upacara pembukaan yang menghadirkan sambutan dari Direktur SEAMEO CECCEP, Sekretariat SEAMEO, Presiden Dewan SEAMEO, serta pidato kunci dan pembukaan resmi oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Abdul Mu'ti, yang mengangkat tema “Delivering Education for All: Advancing Equitable Access, Inclusive Learning, and Better Outcomes for Children.”

Agenda kemudian dilanjutkan dengan Plenary Session 1 bertajuk “Beyond Inclusion: Structural Change for Equitable Access, Participation, and Learning Outcome” yang menghadirkan para pemimpin dan pakar pendidikan dari Indonesia, SEAMEO, GPE, Hiroshima University, GPE KIX, dan organisasi masyarakat sipil. Diskusi berfokus pada pentingnya transformasi sistem pendidikan untuk memastikan akses, partisipasi, dan hasil belajar yang setara bagi seluruh peserta didik.

Pada sesi berikutnya, Prof. Marek Tesar dari University of Melbourne menyampaikan keynote bertema “From Evidence to Action: Strengthening the Research Policy Link in Education Practice” yang menekankan pentingnya memperkuat hubungan antara hasil penelitian dan pengambilan kebijakan pendidikan. Sementara itu, Plenary Session 2 mengangkat tema “Cultural Policies for Identity, Peacebuilding and Sustainable Development” yang membahas peran budaya dalam memperkuat identitas, membangun perdamaian, dan mendukung pembangunan berkelanjutan.

Hari pertama ditutup dengan sesi paralel yang diselenggarakan oleh berbagai pusat regional SEAMEO dan GPE KIX serta Gala Dinner yang menjadi momentum penguatan kerja sama regional. Dalam kesempatan tersebut juga dilaksanakan penandatanganan nota kesepahaman antara SEAMEO dan GPE KIX sebagai bagian dari upaya memperkuat kolaborasi penelitian dan kebijakan pendidikan di kawasan.

Memasuki hari kedua, konferensi menghadirkan keynote dari Stella Christie mengenai penguatan tata kelola pendidikan melalui koherensi kebijakan dan integrasi penelitian. Selanjutnya, Plenary Session 3 yang diselenggarakan bersama INOVASI membahas urgensi penguatan numerasi di kawasan Asia Tenggara dan Australia, termasuk berbagai pembelajaran terkait reformasi sistem pendidikan, kualitas pengajaran, dan pengambilan kebijakan berbasis data.

Isu transformasi digital menjadi fokus utama dalam Plenary Session 4 bertema “Artificial Intelligence for Equity Practices” yang menghadirkan narasumber dari Indonesia, Filipina, Vietnam, Hong Kong, Australia, dan jaringan GPE KIX. Diskusi mengeksplorasi peluang dan tantangan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk memperluas akses dan meningkatkan kualitas pendidikan secara lebih adil dan inklusif.

Pada hari yang sama, peserta juga mengikuti berbagai side event yang membahas penerjemahan hasil penelitian ke dalam bahasa yang lebih mudah dipahami publik, pengembangan computational thinking melalui pendekatan unplugged learning, program gizi berbasis sekolah di Asia Tenggara, serta forum kebijakan yang diselenggarakan INOVASI mengenai inovasi pembelajaran, numerasi, dan tata kelola pendidikan berbasis bukti.

Hari ketiga dibuka dengan keynote oleh Gita Steiner-Khamsi yang mengangkat tema “How Innovation Happens: Lessons from Comparative Policy Studies and Practice.” Sesi-sesi selanjutnya menampilkan berbagai praktik inovatif dalam pendidikan, termasuk pemanfaatan buku cerita bergambar untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, penggunaan kecerdasan buatan dalam pembelajaran, serta pemanfaatan data untuk mendukung pengambilan keputusan pendidikan melalui Indonesia Learning Cycle yang didukung GPE KIX.

Sebagai penutup, para peserta mempresentasikan hasil diskusi dari klaster Pendidikan, Sains, dan Budaya yang telah berlangsung selama konferensi. Hasil-hasil tersebut menjadi dasar bagi penyusunan agenda penelitian dan rekomendasi kebijakan yang akan mendukung penguatan kerja sama regional serta pengambilan kebijakan berbasis bukti di Asia Tenggara. Konferensi kemudian ditutup dengan sesi refleksi dan komitmen bersama untuk terus memperkuat keterhubungan antara riset, kebijakan, dan praktik demi mewujudkan masa depan yang lebih inklusif, setara, dan berkelanjutan bagi kawasan.

Tentang SEAMEO CECCEP

SEAMEO Regional Centre for Early Childhood Care Education and Parenting (SEAMEO CECCEP) merupakan pusat regional SEAMEO yang berfokus pada pengembangan kebijakan, penelitian, dan peningkatan kapasitas di bidang pendidikan anak usia dini dan pengasuhan. Berkantor pusat di Bandung, Indonesia, SEAMEO CECCEP berkomitmen mendukung negara-negara Asia Tenggara dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan dan pengasuhan bagi anak usia dini


Bagikan Artikel