Bandung, 3-5 Februari 2026- SEAMEO Centre for Early Childhood Care Education and Parenting (SEAMEO CECCEP) melaksanakan kegiatan Penguatan Kapasitas melalui Metodologi Riset sebagai upaya meningkatkan pemahaman dan kompetensi peneliti serta praktisi di bidang pendidikan anak usia dini dan pengasuhan.
Di sesi pertama pada tanggal 3 Februari Kegiatan pematerian dilakukan selama tiga hari, pada hari selasa, rabu dan kamis. Pada Selasa 3 Februari 2026 sesi pematerian disampaikan oleh Prof. Vina Adriany, Ph.D. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa penelitian tidak hanya bertujuan mencari kebenaran tunggal, tetapi memahami realitas sosial secara lebih kontekstual. Paradigma post-positivistik memandang bahwa pengetahuan bersifat terbuka untuk dikritisi, dipengaruhi oleh konteks, serta dibangun melalui interaksi antara peneliti dan objek penelitian. Ia juga menjelaskan bahwa pendekatan kualitatif dan kuantitatif tidak saling bertentangan, melainkan dapat saling melengkapi dalam menghasilkan pemahaman yang lebih utuh, terutama dalam penelitian sosial dan pendidikan anak usia dini.
Di sesi selanjutnya pada hari Rabu, 4 Februari 2026 kegiatan Penguatan Kapasitas melalui Metodologi Riset dilanjutkan dengan dua sesi pematerian. Pematerian pertama disampaikan oleh Deputy Director for Administration SEAMEO CECCEP, Bapak Suhendri, Ph.D, yang membahas topik “Metodologi Penelitian Kuantitatif: Ribet atau Efisien?”. Dalam pemaparannya, Ia menjelaskan bahwa penelitian kuantitatif menuntut skeptisisme ilmiah, yakni sikap tidak mudah percaya terhadap data atau hasil penelitian tanpa proses pengujian yang jelas. Penelitian, menurut beliau, dapat dimulai secara sederhana dengan menemukan gap dari fenomena atau penelitian yang sudah ada. Beliau menegaskan bahwa penelitian kuantitatif merupakan metode yang berlandaskan filsafat positivisme, digunakan pada populasi atau sampel tertentu dengan instrumen penelitian yang terukur serta analisis statistik untuk menguji hipotesis. Penelitian kuantitatif tepat digunakan ketika masalah penelitian sudah jelas, memiliki populasi yang luas, serta bertujuan menguji teori yang telah ada.
Pematerian kedua dilanjutkan oleh Prof. Vina Adriany menjelaskan bahwa penelitian dengan anak harus memosisikan anak sebagai subjek yang memiliki suara, agensi, dan pengalaman yang bermakna, bukan sekadar objek penelitian. Oleh karena itu, pendekatan kreatif dan partisipatif seperti menggambar, bercerita, bermain, photovoice, dan metode berbasis seni menjadi penting untuk menjembatani keterbatasan ekspresi verbal anak usia dini. Prof. Vina menekankan bahwa penelitian bersama anak wajib menjunjung tinggi prinsip etika, termasuk persetujuan yang diinformasikan, perlindungan privasi, sensitivitas budaya, serta kesadaran akan relasi kuasa antara orang dewasa dan anak. Melalui metode partisipatif dan triangulasi, penelitian diharapkan mampu menggali pengalaman anak secara lebih autentik, kaya, dan kontekstual, sehingga hasilnya tidak hanya valid secara akademik, tetapi juga berkontribusi pada kebijakan dan praktik pendidikan anak usia dini yang lebih inklusif dan berpihak pada anak.
Hari Kamis, 5 Februari 2026, dilaksanakan sesi presentasi materi yang disampaikan oleh Bapak Widodo Suhartoyo. Dalam paparannya, Bapak Widodo Suhartoyo menyampaikan narasi mengenai pentingnya strategi komunikasi hasil riset yang efektif kepada pengambil keputusan, dengan menekankan pemahaman karakteristik audiens, penyesuaian pesan riset dengan kebutuhan kebijakan, penyajian informasi secara ringkas dan visual, serta perumusan rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti (actionable insights). Materi disampaikan melalui pendekatan The Hook, The Evidence, The Payoff, dan The Call to Action, sehingga sesi ini memberikan penguatan dan pemahaman praktis bagi peserta dalam mengomunikasikan hasil penelitian agar lebih relevan dan berdampak pada proses pengambilan keputusan.
Setelah seluruh rangkaian pematerian selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi yang berlangsung sangat interaktif, di mana para peserta secara aktif mengajukan pertanyaan, berbagi pengalaman, serta mendiskusikan penerapan metodologi riset dalam konteks nyata. Kegiatan kemudian ditutup dengan pelatihan berbasis kelompok yang dirancang untuk kedepannya sebagai ruang praktik bersama, guna melatih peserta secara lebih partisipatif dan interaktif dalam merancang, memahami, dan mengaplikasikan metode penelitian secara kolaboratif.
Share This News