Pada 25 Mei 2022 SEAMEO CECCEP melaksanakan pelatihan training dengan tema “Our Happy Neighbourhood (OHN)” secara daring. Modul ini membahas mengenai hak anak yang mencakup Perlindungan, Penyediaan, dan Hak Partisipasi. Salah satu materi yang dibahas dalam kegiatan ini yaitu happy children. Pada modul ini membahas mengenai hak anak dalam perspektif kelompok marginal, bagaimana akses hak partisipasi anak, dan suara anak perlu untuk didengar.
Di dalam sambutannya, Direktur mengucapkan terimakasih dan sambutannya kepada 30 peserta guru PAUD Filipina yang mengikuti pelatihan. Direktur SEAMEO CECCEP menjelaskan bahwa pelatihan ini akan berfokus pada Modul Happy Children, Modul ini dimaksudkan untuk mencapai hak-hak anak di seluruh dunia. Kesempatan ini akan menjadi jembatan untuk kolaborasi antara SEAMEO CECCEP dengan Filipina dalam memperoleh dan mencapai tujuan bersama di masa depan. “Semoga pelatihan ini dapat membantu para guru (baik di Indonesia maupun Filipina), khususnya guru-guru PAUD,” Tutur Vina.
Di sesi pertama Assila Prianggi menjelaskan materi tentang Child Rights within the United Nations Convention Rights of Child (UNCRC). Setiap anak perlu dilindungi karena masa kanak-kanak berhak atas perawatan dan bantuan khusus. Mereka harus mendapatkan perawatan yang sesuai. Terkadang, kemampuan mereka yang masih kecil dibandingkan dengan orang dewasa membuat adanya batasan-batasan dalam memberikan perlindungan terhadap anak. Orang dewasa sering kali mengambil banyak peran dalam memberikan perlindungan bagi anak-anak. sebagai orang dewasa harus memberi arti dan memahami anak-anak.
“Kami menggunakan Our Happy Neighbourhood (OHN) sebagai kerangka kerja. Kita percaya bahwa anak-anak adalah individu yang memiliki hak-hak mereka sendiri. Orang dewasa harus mendengarkan dan berbicara dengan anak-anak. Kami juga harus mengevaluasi dan mengimplementasikan semua rancangan kami. Ekspresi anak-anak kami adalah cara mereka belajar di masyarakat. Kita sering lupa bahwa anak-anak juga dapat mengekspresikan diri mereka sendiri.” Tutur Assila.
Di sesi kedua, Tiara Delia menjelaskan mengenai Happy Children Module: Challenges of Child Rights. Dimulai dengan pemutaran video tentang hubungan dan interaksi antara guru dan murid. Di sini, ditampilkan berbagai cara guru dalam memberikan hakikat anak sebagai pemegang hak. Para peserta diminta untuk memberikan tanggapannya.
Tanggapan pertama datang dari Kania, "Ada berbagai perlakuan berbeda yang diberikan guru kepada siswa dan bagaimana perlakuan tersebut berdampak pada anak-anak." Tanggapan kedua datang dari Cheryl De Guzman, "Menurut saya, video ini menunjukkan sudut pandang yang berbeda dari kepala sekolah, guru, dan anak-anak. Pada awalnya, saya melihat seorang guru yang sulit menyesuaikan diri dengan murid-muridnya, sehingga murid-muridnya merasa tidak senang. Sikap guru mempengaruhi sikap anak didik. Jika anak diberi hak dan kesempatan untuk bergaul secara alami dengan gurunya, dampaknya akan positif." Yang ketiga datang dari Rhea Abunan, "Guru yang Bahagia Menciptakan Kelas yang Bahagia."
Setiap orang, termasuk orang dewasa, membutuhkan perlindungan, penyediaan, dan hak partisipasi yang sama seperti anak-anak. Lingkungan telah mempengaruhi persinggungan antara anak-anak dan orang dewasa. Sejarah manusia telah memberikan data mengenai hak-hak yang saling terkait antara anak-anak dan orang dewasa. Semua pasal dalam Konvensi PBB tentang Hak Anak (UNCRC) berlaku tanpa diskriminasi dalam bentuk apa pun. Ini berarti bayi dan anak-anak harus dilindungi. Dalam pasal 33 CPRN, bayi dan anak-anak membutuhkan hak untuk melindungi diri mereka sendiri dari narkotika.
Di sesi ketiga, Dwi Anisa menyampaikan terkait tentang Happy Children Module: How to Deal with Young Children Rights. Ia menjelaskan bahwa bermain sangat penting bagi perkembangan anak yang sehat. Bermain sangat penting untuk perkembangan anak yang optimal sehingga telah diakui oleh Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai hak setiap anak" (Ginsburg, 2007). Oleh karena itu, bermain lebih baik dimulai dengan keputusan anak sendiri, tanpa tekanan dari orang dewasa. Bermain memiliki banyak manfaat diantaranya bermain dapat mengembangkan emosi anak. Anak dapat melepaskan emosi dan pengalaman negatifnya. Anak-anak menciptakan pengetahuan mereka sendiri tentang dunia melalui interaksi dan informasi yang mereka dengar, melalui indera dan sensorik-motorik mereka. Bermain memiliki dampak positif terhadap perkembangan kognitif anak, yang dibentuk oleh hubungan sosial. Anak-anak menemukan pengetahuan tentang dunia mereka, dan kemudian menjadikannya bagian dari perkembangan mereka.
Disisi lain ia juga mempertanyakan hak anak usia dini yang berasal dari kelompok rentan seperti anak jalanan. Di antara hak-hak alamiah anak dan anak-anak dari kelompok rentan. Terdapat beberapa kesenjangan antara kedua hak anak ini. Pada hak alamiah anak, hak-hak anak bersifat universal, anak-anak memiliki hak untuk berbicara, dan bermain di lingkungan yang aman dan nyaman. Namun, bagi anak-anak dari kelompok rentan, hak-hak tersebut termasuk pendidikan gratis namun tidak gratis seragam dan buku, penggunaan kata-kata umpatan sebagai komunikasi sehari-hari, dan bermain di mana saja.
Kegiatan selanjutnya adalah diskusi tentang kasus anak jalanan di Filipina. Di sini Cheryl De Guzman menjawab bahwa beberapa anak jalanan di Filipina juga diurus oleh Dinas Kesejahteraan Sosial dan Pembangunan Kota, sementara yang lain didorong untuk mengikuti pendidikan dasar melalui kemitraan sekolah-masyarakat". Peserta kedua bernama Cinderella menjelaskan bahwa, "Kasus anak jalanan dalam aspek ini belum dieksplorasi oleh tim kami. Kami mungkin akan mempertimbangkan untuk meneliti hal ini jika ada kesempatan. Terima kasih!". Maria Theresa Perez menjawab "Ada banyak anak jalanan di Filipina dan sebagian besar dari mereka juga terlihat di kota-kota. Namun pemerintah mengambil langkah-langkah untuk membawa anak-anak ini ke sekolah untuk mendapatkan pembelajaran formal". Susan Estrada menjawab, "Kami memiliki nasib yang sama dengan anak-anak jalanan di sini, di Phils. Kami melihat mereka lebih dewasa dan berpusat pada keluarga. Mengambil tanggung jawab untuk mencari nafkah bagi keluarga mereka."
Kegiatan pelatihan ditutup dengan closing remark, dan selanjutnya sesi tanya jawab dan pemberian tugas oleh tim SEAMEO CECCEP. Pada akhirnya dalam pemenuhan hak anak harus memperhatikan prinsip non diskriminasi yang merupakan aspek fundamental dari hak-hak anak. Prinsip ini menyatakan bahwa setiap anak, tanpa memandang latar belakangnya, harus memiliki akses yang sama terhadap dan menikmati hak-haknya. Ini berarti bahwa anak-anak dari kelompok rentan dan terpinggirkan tidak boleh dikecualikan atau dirugikan dengan cara apa pun dalam memenuhi hak-hak mereka. Pemerintah dan organisasi harus mengembangkan kebijakan dan program inklusif yang memenuhi kebutuhan khusus kelompok anak yang rentan. Hal ini mencakup anak-anak penyandang disabilitas, anak-anak dari etnis dan agama minoritas, anak-anak pengungsi dan migran, anak-anak yang hidup dalam kemiskinan, dan anak-anak yang tinggal di daerah terpencil atau pedesaan. Kebijakan dan program ini harus memastikan akses yang sama terhadap pelayanan kesehatan, pendidikan, layanan sosial, dan dukungan lain yang diperlukan.
Share This News